Sunday, October 26, 2014
News
Home > Diary > Ibu mu, ibu mu, ibu mu
Postingan ini sudah dibaca 93 kali

Ibu mu, ibu mu, ibu mu

# Kisah Renungan
“Ibu, masakin air bu. Aku mau mandi pakai air
hangat,” seorang anak meminta ibunya menyiapkan
air hangat untuk mandinya.
Sang ibu dengan ikhlas melaksanakan apa yang
diperintah oleh sang anak.
Dengan suara lembut ibunya menyahut, “Iya,
tunggu sebentar
ya sayang!”
“Jangan terlalu lama ya Bu!
Soalnya saya ada janji sama teman.” ujar sang
anak.
Tidak lama kemudian sang ibu telah usai
menyiapkan air hangat untuk buah hatinya.”Nak,
air hangatnya sudah siap.” ibu itu memberi tahu.
“Lama sekali sih Bu…” sang anak sedikit
membentak.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, sang
anak berpamitan kepada ibunya, “Bu, saya keluar
dulu ya, mau jalan-jalan sama teman.”
“Mau kemana nak?” tanya sang ibu.
“Kan sudah aku bilang, aku mau keluar jalan-jalan
sama teman”
Kata sang anak sambil mengerutkan dahi.
Malam harinya, sang anak pulang dari jalan-jalan,
sesampainya di rumah ia merasa kesal karena
ibunya tidak ada di rumah.
Padahal perutnya sangat lapar, di meja makan
tidak ada makanan apa pun.
Beberapa saat kemudian, ibunya datang sambil
mengucapkan salam “Assalamu’alaikum.. Nak,
kamu sudah pulang? Sudah dari tadi?”
“Hah, ibu dari mana saja. Saya ini lapar, mau
makan tidak ada makanan di meja makan.
Seharusnya kalau ibu mau keluar itu masak dulu…”
kata si anak dengan suara sangat lantang.
Sang ibu mencoba menjelaskan sambil memegang
tangan anaknya, “Begini sayang, kamu jangan
marah dulu. ibu tadi keluar bukan untuk urusan
yang tidak penting, kamu belum tahukan kalau
istrinya Pak Rahman meninggal?”
“Meninggal? Padahal tidak sakit apa-apa kan Bu?”
sang anak sedikit kaget, nada suaranya juga tidak
tinggi lagi.
“Dia meninggal waktu Maghrib tadi. Dia meninggal
saat melahirkan anaknya. Kamu juga harus tahu
nak, seorang ibu itu bertaruh nyawa saat
melahirkan anaknya,” ibu memberikan penjelasan.
Hati sang anak mulai terketuk, dengan suara lirih ia
bertanya pada ibunya, “Itu artinya, ibu saat
melahirkanku juga begitu? Ibu juga merasakan
sakit yang luar biasa juga?”
“Iya anakku. Saat itu ibu harus berjuang menahan
rasa sakit yang luar biasa. Namun, ada yang lebih
sakit dari sekedar melahirkanmu nak.” sang ibu
menjawab.
“Apa itu Bu?” sang anak ingin mengerti apa yang
melebihi rasa sakit ibunya saat melahirkan dia.
Sang ibu tak mampu menahan air mata yang
mengalir dari setiap sudut matanya seraya berkata,
“Rasa sakit saat ibu melahirkanmu itu tak
seberapa, bila di bandingkan dengan rasa sakit
yang ibu rasakan saat dirimu membentak ibu
dengan suara lantang, saat kau menyakiti hati ibu
nak.”
Si anak langsung menangis dan memohon ampun
atas apa yang telah diperbuat selama ini pada
ibunya…
Sahabat,
Sekali saja kita membentak orang tua. Hal itu telah
membuat hatinya bergetar. Jika hati orang tua kita
bergetar karena ucapan kita yang kasar, tanpa kita
sadari hal itu telah menyebabkan umur beliau lebih
pendek.

Mohon Komentarnya ya :)

komentar

BIGTheme.net • Free Website Templates - Downlaod Full Themes